Kabherpendidikan.com- Opini-Sekolah sekarang rasanya perlu papan petunjuk tambahan. Bukan “Ruang Guru” atau “Ruang BK”, melainkan: Hati-hati Menegur, Bisa Berujung Laporan. Ini bukan satire berlebihan. Ini realitas.
Hari-hari ini, guru sering kali berada di posisi yang serba canggung. Menegur siswa salah. Tidak menegur, disalahkan. Mendidik dengan suara tegas dianggap kekerasan. Membina karakter dipersepsikan melukai perasaan. Akhirnya, sebagian orang tua memilih jalur tercepat: melapor ke pihak berwenang.
Sebagai penulis dan bagian dari masyarakat yang mengamati pendidikan melihat ada yang bergeser dalam cara kita memaknai sekolah. Dulu, orang tua menitipkan anaknya untuk dididik. Sekarang, sebagian menitipkan anaknya untuk tidak “disentuh” sedikit pun—bahkan oleh kata-kata.
Perlindungan anak tentu penting. Sangat penting. Tetapi ketika semua bentuk disiplin dianggap ancaman, di situlah pendidikan mulai kehilangan makna. Guru bukan pesulap yang bisa membentuk karakter tanpa sentuhan emosi, tanpa ketegasan, dan tanpa risiko salah paham.
Masalahnya bertambah ketika otoritas moral guru mengalami degradasi. Guru tak lagi selalu dipercaya, melainkan dicurigai. Sekolah berubah seperti etalase kaca: bening, tapi rapuh. Sedikit saja diketuk, retak. Media sosial lalu datang membawa palu godam bernama opini publik.
Ironisnya, perlindungan hukum bagi guru sering tertinggal jauh di belakang. Regulasi ada, tetapi keberanian mendidik perlahan menguap. Guru akhirnya memilih aman. Diam. Netral. Padahal pendidikan tidak pernah lahir dari sikap netral.
Jika kondisi ini dibiarkan, jangan heran bila sekolah semakin sunyi dari nilai. Ramai administrasi, sepi keteladanan.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya jujur: kita ingin sekolah yang mendidik, atau sekadar tempat belajar tanpa sentuhan manusia? ( RSH)
Posting Komentar untuk "Guru Menegur, Orang Tua Melapor: Sekolah atau Ruang Sidang?"